"sesaat, aku merasa akulah orang paling berduka...namun saat aq menoleh ke belakang, aku takjub...
ternyata aku justru orang yang paling bahagia..."
lelah marambati tiap urat jiwaku. Jiwa yang sepi, jiwa yang kosong. seandainya teriakan bisa meredakan semua, maka dunia ini akan penuh dengan suara kehampaan dan kesengsaraan... jika tangisan-lah yang bisa melegakan, mungkin perlu diciptakan satu samudra lagi bernama samudra kepedihan...
apakah aku sedang putus asa? mungkin jawabannya iya. aku jera jika harus menoleh pada masa lalu yang buruk. entah mengapa rasa syukur yang seharusnya aku ucap tiap kali, selalu berganti dengan pandangan sinis terhadap segala sesuatu... aku jahat? iya, kau benar.
aku letih jika harus tertawa setiap detik untuk menutupi gelisahku, resahku, tangisku... seandainya bantal dan guling di kamarku bisa bicara, pasti mereka minta dipecat dari tugasnya menemaniku. namun entah mengapa, sesak ini selalu saja menghantui. mungkin kau ingin bertanya, kesalahan apa yang telah aku perbuat sehingga aku berada pada puncak kepasrahan yang sangat ini? maaf, aku tidak bisa memberi tau karena kesalahan itu banyak. sangat banyak dan fatal menurutku, yang mungkin bagi sebagian orang tidak dianggap demikian.
kepalaku terasa penuh dan siap untuk diledakkan, seperti itulah keadaannya. aku benci diriku...
aku benci hidupku... aku benci..
dan tiap kali kebencianku menguasai, maka tiap kali itulah sesuatu menjewerku dengan keras. menamparku bahkan... Aku tercekik, ketika tiap aku berputus asa dan merasa Dia bertindak tidak adil padaku, selalu ada orang ataupun peristiwa yang aku lihat dengan jelas, mempunyai masalah yang jauh, jauuuh lebih rumit dibandingkan denganku...
tiap kali aku merasa diciptakan tidak sempurna, tiap kali itu pula-lah aku melihat dengan jamblang seseorang yang jauh, jauuuh lebih tidak sempurna dibandingkan aku... aku terlalu mendongak, aku belum belajar menunduk... aku terlalu kacau dengan tidak mensyukuri tiap nasi yang aku jejalkan ke mulutku... aku terlalu sombong dengan tidak menyadari bahwa aku dapat berjalan karena bantuanNya... Dia yang selalu membantuku... apapun yang aku butuhkan, Dia selalu memberikannya... dan bodohnya aku, aku tidak menyimpan hal itu baik-baik dalam otakku..
aku jahat...
saat kepingan-kepingan penyesalan itu menyergapku secara perlahan, aku merasa terteror pada satu Ayat-Nya...
"Fa bi ayyi 'aalaa irobbikumaa tukadzdzibaan..."
ayat itu selalu mendatangiku seakan menjambak rambutku,,,
namun,, saat ku sadari bahwa ternyata ayat itu berupa sebuah pertanyaan,, aku tau, Dia menyuruhku untuk mencari jawabannya...
suatu ketika aku kembali terpuruk pada lubang putus asa, pada saat itu pula-lah aku melihat seseorang yang seharusnya lebih putus asa dariku dengan kondisinya yang sedemikian rupa, malah justru tertawa bahagia...
detik itu aku menemukan jawaban dari pertanyaan tersebut...
jawabanku adalah,,,
"La syai' Ya Robb..."
dict:
-fa bi ayyi 'aalaa irobbikumaa tukadzdzibaan?
=maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang (akan) kamu dustakan?
-La syai' ya Robb...
=tidak satupun, Tuhan..
ternyata aku justru orang yang paling bahagia..."
lelah marambati tiap urat jiwaku. Jiwa yang sepi, jiwa yang kosong. seandainya teriakan bisa meredakan semua, maka dunia ini akan penuh dengan suara kehampaan dan kesengsaraan... jika tangisan-lah yang bisa melegakan, mungkin perlu diciptakan satu samudra lagi bernama samudra kepedihan...
apakah aku sedang putus asa? mungkin jawabannya iya. aku jera jika harus menoleh pada masa lalu yang buruk. entah mengapa rasa syukur yang seharusnya aku ucap tiap kali, selalu berganti dengan pandangan sinis terhadap segala sesuatu... aku jahat? iya, kau benar.
aku letih jika harus tertawa setiap detik untuk menutupi gelisahku, resahku, tangisku... seandainya bantal dan guling di kamarku bisa bicara, pasti mereka minta dipecat dari tugasnya menemaniku. namun entah mengapa, sesak ini selalu saja menghantui. mungkin kau ingin bertanya, kesalahan apa yang telah aku perbuat sehingga aku berada pada puncak kepasrahan yang sangat ini? maaf, aku tidak bisa memberi tau karena kesalahan itu banyak. sangat banyak dan fatal menurutku, yang mungkin bagi sebagian orang tidak dianggap demikian.
kepalaku terasa penuh dan siap untuk diledakkan, seperti itulah keadaannya. aku benci diriku...
aku benci hidupku... aku benci..
dan tiap kali kebencianku menguasai, maka tiap kali itulah sesuatu menjewerku dengan keras. menamparku bahkan... Aku tercekik, ketika tiap aku berputus asa dan merasa Dia bertindak tidak adil padaku, selalu ada orang ataupun peristiwa yang aku lihat dengan jelas, mempunyai masalah yang jauh, jauuuh lebih rumit dibandingkan denganku...
tiap kali aku merasa diciptakan tidak sempurna, tiap kali itu pula-lah aku melihat dengan jamblang seseorang yang jauh, jauuuh lebih tidak sempurna dibandingkan aku... aku terlalu mendongak, aku belum belajar menunduk... aku terlalu kacau dengan tidak mensyukuri tiap nasi yang aku jejalkan ke mulutku... aku terlalu sombong dengan tidak menyadari bahwa aku dapat berjalan karena bantuanNya... Dia yang selalu membantuku... apapun yang aku butuhkan, Dia selalu memberikannya... dan bodohnya aku, aku tidak menyimpan hal itu baik-baik dalam otakku..
aku jahat...
saat kepingan-kepingan penyesalan itu menyergapku secara perlahan, aku merasa terteror pada satu Ayat-Nya...
"Fa bi ayyi 'aalaa irobbikumaa tukadzdzibaan..."
ayat itu selalu mendatangiku seakan menjambak rambutku,,,
namun,, saat ku sadari bahwa ternyata ayat itu berupa sebuah pertanyaan,, aku tau, Dia menyuruhku untuk mencari jawabannya...
suatu ketika aku kembali terpuruk pada lubang putus asa, pada saat itu pula-lah aku melihat seseorang yang seharusnya lebih putus asa dariku dengan kondisinya yang sedemikian rupa, malah justru tertawa bahagia...
detik itu aku menemukan jawaban dari pertanyaan tersebut...
jawabanku adalah,,,
"La syai' Ya Robb..."
dict:
-fa bi ayyi 'aalaa irobbikumaa tukadzdzibaan?
=maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang (akan) kamu dustakan?
-La syai' ya Robb...
=tidak satupun, Tuhan..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar