
“Gelap! Aduh, debu nya banyak sekali!”
”Psssst... kita sedang sembunyi. Diamlah!”
”Iya iya... Afwan, Ziz..”
Tak lama kemudian aku mendengar langkah kaki mendekat. Langkah kaki tergesa-gesa. Ya Allah, selamatkan kami! Kaki itu semakin dekat, kami mendengarnya dengan jelas. Pasti kaki tersebut terlindung sepatu boot yang berat. Aku menahan nafas, begitu pula Aziz, saudaraku yang menakjubkan.
Dia di depanku! Tentara itu hanya semeter di depanku, hanya saja terhalang kayu besar untuk mencapai tempat persembunyian kami. Bau apek ruangan berdebu pekat ini menjadi-jadi saat bau keringat tentara itu menyeruak. Sialan, bau sekali dia! Allah, walau aku tidak mati di tangannya, bisa jadi aku tetap mati karena kehabisan nafas. Kematian seperti itu juga termasuk syahid kan?
”Tidak ada! Di sini tidak ada tikus-tikus itu!” Tentara bau itu berteriak kemudian berjalan menjauh. Hentakan langkahnya jelas ia maksudkan agar kami berdua ketakutan. Tak lama kemudian dia menghilang. Sebenarnya, tadi aku ingin keluar dari persembunyian dan bertanya padanya,
”Excuse me Sir, do you never take a bath?”
atau,
“Sir, your smell can kills some one! Do you realize it?”
Aku ingin sekalian mempraktekkan bahasa inggrisku yang masih amburadul ini, namun, aku masih sayang nyawaku, sehingga niat iu aku pendam kembali.
Hmpfh... Lega... Akhirnya aku bisa mendapat harapan hidup lagi. Oksigen yang terkontaminasi oleh debu ini masih bisa menyambung hidupku. Untung polusi mengerikan tadi telah pergi. Kami berdua menunggu sampai sekiranya benar-benar aman. Aku melihat Aziz, dia merintih kesakitan. Di sini tidak tampak apapun, tidak ada penerangan sama sekali. Tapi desisan Aziz mengungkapkan semuanya, bahwa bagian tubuhnya ada yang terluka.
”Aziz, kamu kenapa?” Memang terlalu basa-basi, tapi aku sungguh tidak tahu di bagian mana sakit yang ia rasakan.
”Lenganku terserempet peluru, Nar!”
Ya Allah, aku tahu itu pasti mengerikan. Walaupun aku juga tahu di luar sana, di tanah gersang nan suci itu tergeletak jenazah-jenazah yang jauh, jauh lebih mengerikan. Seperti tadi sebelum masuk aku sempat berteriak karena melihat kepala tanpa badan, yang wajahnya pekat tertutup darah. Wallahi aku menyumpahi mereka agar diberikan tempat sesuai. Semoga neraka jahannam yang melahap mereka.
”Danar, ayo kita keluar saja dari sini. Aku yakin para tentara busuk itu sudah pergi.” Tertatih Aziz berdiri sambil memegangi lengannya. Itu pasti sakit sekali. Ya Allah... Jagalah ia, jagalah kami, jagalah Palestin, jagalah ummat Islam...
Secercah sinar di ujung itu membuat kami tahu, bahwa itulah jalan keluar. Pintu yang sudah tinggal seperdelapan dari ukuran sesungguhnya membuat kami dapat bernafas dalam arti yang sebenarnya. Debu memang ada, tapi tidak sebanyak tadi.
Belum sampai depan pintu, dalam himpitan bangunan yang setengah hancur ini menjulurlah sebuah tangan.
”AAAAAAAAARGH!!! Aziiiz, tangan... itu ada tangaaaan!” Aku berteriak kaget, benar-benar kaget dan ngeri melihat tangan tiba-tiba menjulur dari dalam runtuhan batu. Aziz memukulku dan berbisik marah,
”Bodohnya dirimu duhai saudaraku, tentara itu tahu kita di gedung roboh ini karena teriakanmu saat masuk tadi. Sekarang kau teriak lagi? Kau mau membuat kita celaka? Jika Allah memanggilku, aku ingin mati dengan istimewa. Terkena rudal, atau peluru. Tapi bukan mati kelaparan saat kita jadi tawanan!”
”Iya, Ziz... tapi tangan itu benar-benar mengagetkanku...” belaku sambil mengusap pundakku yang perih dipukulnya. Kalau aku jahat, pasti untuk membalas pukulan Aziz, akan aku pegang tangannya yang sakit. Namun Aziz patut bersyukur karena aku dilahirkan untuk menjadi anak baik.
”Biasakanlah dirimu, hal seperti ini akan sering kau temui. Aku malu berjalan bersamamu karena dari kemarin kau berteriak tiap melihat mayat tak utuh, dan kau hampir pingsan tiap melihat jenazah yang dikafani. Ayo kita keluar sekarang!” Aziz menggapai tanganku dan diajaknya aku keluar.
Lho, Jenazah yang membuatku hampir pingsan kan jenazah yang kafannya merah terkena darah suci para Mujahid itu... Tapi, ya sudahlah... sekarang aku lebih terbiasa daripada hari kemarin.
Aku berasal dari Indonesia, tepatnya dari Jogja. Aku bisa sampai disini karena satu keluarga berhati mulia, mengambilku sebagai anak asuh untuk disekolahkan di tanah yang dijanjikan ini. Kebetulan waktu itu keluarga ini sedang ada urusan penting di Jogja, entahlah urusan apa itu. Mobil mereka mogok di depan rumahku. Saat Ayah Aziz turun dan mencoba membenarkan mobil yang tidak berdaya itu, aku sedang merangkak perlahan di atap, membetulkan letak genting rumah yang miring akibat ulahku.
Ayah Aziz tidak sengaja melihatku dan kaget, kemudian beliau tertawa. Langsung saja beliau menyuruhku turun dan mengajakku sekaligus keluargaku berkenalan. Ayah Aziz beberapa kali datang ke Jogja, sehingga bahasa Indonesianya sudah lumayan bisa dipahami meskipun masih terdengar aneh.
Ayah Aziz ingin menjadikanku anak angkat agar Aziz yang kebetulan anak tunggal mempunyai saudara. Awalnya ibuku menolak, namun atas segala serangan ucapan dariku dan bapak mematahkan argumentasi ibu, jadilah aku berangkat ke Palestina ini. Begitulah cerita singkat mengapa aku ada di tengah keluarga Aziz yang kini menjadi keluargaku.
”Lari, Nar!” perintah Aziz menghancurkan bayangan masa laluku. Tank memasuki daerah perkampungan ini. Aku dan Aziz berlari sangat kencang. ”Kita kemana Ziz?” tanyaku di tengah kepanikan yang sangat.
”Ke arah sini. Cepatlah!”
Kami berbelok ke arah kiri dan menemukan tong besar. Tong yang biasanya digunakan untuk menyimpan barang-barang milik pedagang itu menjadi tempat persembunyian kami selanjutnya.
Sebenarnya sangat mengerikan, bermain petak umpet dengan para penjajah bodoh itu. Rasanya nyawa bukanlah sesuatu yang patut dipusingkan. Tapi itu bukan mau kami. Setan-setan itu yang kelihatannya ingin bermain. Hanya saja bermain dengan darah. Aku yakin, masa kecil mereka dulu sangat sangat sangat tidak bahagia.
Aziz mengintip dari sela-sela antara tong dengan tutupnya.
”Biadab! Dua tank! Bagaimana bisa kita melawan mereka?” umpatnya.
”Sebentar, tank lagi? Kok dalam logikaku, mereka menjadi semakin pengecut ya? Begini maksudku. Aku bisa mengakui mereka pemberani jika mereka tidak bersenjata, seperti kita...” Bisikku pada Aziz.
”Kau tahu Hamas? Golongan yang sama-sama berrebut kekuasaan? Israel terkutuk ini sesungguhnya mengincar Hamas yang sama-sama bersenjata. Namun, kami para penduduk sipil selalu yang menjadi korban, bahkan tameng mereka.” jawabnya geram.
Hamas? Oh, iya-iya, tentu saja aku tahu... Namun jujur, aku memang kurang paham. Entahlah... Mungkin orang-orang yang berpolitik. Aku belum ingin (belum sanggup lebih tepatnya) bermain dengan dunia itu.
”Danar, kita harus susun strategi. Bagaimana mengalahkan dua tank itu dengan tangan kosong?” Huh, mustahil. Itu tidak mungkin terjadi kecuali ada keajaiban dari Allah.
”Berdo’a?” jawabku asal.
”Iya berdo’a, tapi harus ada aplikasinya.” Aplikasi? Sudahlah.... itu terlalu berkhayal. Siasat perang Jepang yang aku baca dari komik Shanao Yohitsune dulu pun tidak ada yang cocok. Dalam siasat perang itu, lawannya orang bersenjata pedang, bukan tank.
”Apa yang kau pikirkan Nar?” Yang aku pikirkan? Membuang semua khayalan konyolnya untuk menghancurkan dua tank itu.
”Dalam komik Jepang yang pernah aku baca, ada kata-kata ’jika kau ingin melumpuhkan seribu pasukan, maka lumpuhkan dulu pimpinan pasukan itu. Maka pasukan yang lain akan kehilangan arah dalam berperang’.” jawabku diplomatis. Itu jika pimpinan perangnya bukan di dalam tank. Yang ini lain cerita. Aziz terlihat berpikir sejenak. Lalu bertanya lagi,
”Apalagi yang kau ketahui?”
”Hh, ini lebih mustahil lagi. Jika kau ingin membunuh pemegang kuda, tebas saja kaki kudanya. Tapi kau harus ingat Ziz, lawan kita tidak menggunakan kuda. Menebas kaki kuda juga perbuatan yang jahat.”
”Tapi menghancurkan tank bukan kejahatan kan?” tanyanya sinis. Allah, aku menyesal telah memberitahunya hal-hal yang aneh.
”Menurutmu, pemimpin pasukan yang ini ada di tank depan atau belakang, Nar?” tanya Aziz.
”Di film-film, para penjahat pasti digambarkan mempunyai pemimpin yang menumbalkan anak buahnya demi keselamatan dirinya.” aku sudah sangat terbawa suasana film.
”Aku juga berpikir demikian.” Aziz berkata yakin.
”Siap syahid, Nar?” tanyanya menakutkan.
”Eh? Ya! Aku siap....” jawabku lebih menakutkan.
Tunggu sebentar, ini bukan hal yang menakutkan. Ini perbuatan yang bagus. Aku teringat dulu ustadz TPA-ku memberi nasihat, ”Jika sudah besar, tanamkanlah jiwa ksatria pada diri kalian. Berjihadlah! Saat negara-negara Islam, misalnya Palestin diserang, kita harus membantu!”
Palestin? Pada saat itu aku teringat pada Aziz. Lalu aku bertanya pada Ustadzku,
”Mengapa Palestin harus kita bantu Ustadz?”
”Tidak hanya Palestin, Danar... Tapi semua negara Islam. Tapi jika pertanyaanmu mengarah pada Palestin, maka Ustadz akan menjawab karena Palestin adalah salah satu negara yang langsung mengakui kedaulatan Indonesia pada saat Indonesia merdeka dulu. Padahal tidak semua negara langsung mengakui bahwa Indonesia telah berdaulat.”
Aku bergetar hebat teringat jawaban dari Ustadzku. Baiklah, Tuan Palestin yang dicintai Allah, inilah saatnya aku membalas budi baikmu terhadap negaraku dulu.
Aku dan Aziz mencoba mencari strategi jitu. Tank itu tidak seperti kayu yang mudah terbakar jika terkena api. Tank adalah baja. Tapi baja bersifat konduktor alias penyalur panas yang baik. Aku berterimakasih pada penemu rumus konduktor isolator. Sebelum masuk tong ini tadi, ternyata Aziz melihat minyak tanah di dalam warung yang dindingnya remuk, di belakang tong kami berdiri. Ini akan membantu, karena kami punya korek api. Tapi bagaimana langkah selanjutnya?
”Ziz, di warung itu jika ada minyak tanah, berarti ada kemungkinan terdapat gas. Bukan begitu?”
”Mmmm, ya... aku rasa demikian. Lalu apa saranmu?”
”Begini...” aku membicarakan saran aneh yang ada di benakku. Aziz mengangguk-angguk lalu tersenyum. ”Cemerlang!” ungkapnya. Ya Allah, masukkanlah Aziz ke dalam Syurga karena dia satu-satunya orang yang mengatakan bahwa ideku cemerlang. Sebelumnya, di Yogja dulu, orang-orang selalu menolak ideku dengan perkataan yang sangat menusuk. ”Idemu tidak bermutu, Nar!”
Kami keluar mengendap-endap menuju warung rusak itu. Dengan sedikit penerangan dari sinar matahari di luar, kami menemukan tabung gas berukuran besar. Akan sedikit merepotkan untuk membawanya ke sana.
”Aku mengintip tank itu sebentar Nar!” Aziz berlari lalu mengintip ke kiri. Tak lama ia kembali lagi.
”Tank itu berjalan lambat. Sepertinya sebentar lagi ia akan berhenti. Arahnya sekitar 250 meter dari kita. Kita akan Syahid Nar! Akhirnya...” Aziz terlihat bahagia sekali. Aku membawa minyak tanah sambil menjinjing beberapa kayu keluar dan Aziz hanya membawa tumpukan kayu karena tangannya terluka parah.
”Bismillah...” ucap kami bersamaan.
Benar dugaan Aziz, tank itu telah berhenti. Kami berlari mengendap-endap sambil tertatih.
Menegangkan. Aku sangat tegang saat sampai di belakang tank. Bukan hal yang mustahil jika salah satu saja pasukan mengetahui kami, tank akan dijalankan mundur dengan segera. Kami akan terlindas dan tamat. Namun Allah masih menjaga kami. Pelan-pelan namun cekatan kami meletakkan kayu bakar di sekitar tank dan menuangkan minyak tanah, lalu menyalakan api di setiap sudut. Aku yakin, mereka belum keluar dari tank karena takut mendapat serangan mendadak, dan mereka tidak akan berpikir ada dua bocah lelaki nakal yang mencuri start.
Setelah api menyala dari bawah tank, kami berlari mengambil gas di warung tadi. Butuh waktu lama agar mereka menyadari betapa panasnya tank itu. Tank depan masih selamat. Tabung gas kami bawa berdua. Tiba-tiba aku tertawa, dan tabung gas kami letakkan kembali ke tanah.
”Jangan tertawa di saat seperti ini, Nar!”
”Kita berdua bodoh ya Ziz, bagaimana mungkin tabung seberat ini bisa kita lemparkan?”
”Iya juga? Lalu bagaimana, Nar?”
Aku berlari ke ujung gang ini, dan ternyata tadi aku tidak salah lihat. Aku tersenyum dan menarik papan kasar, yang dibawahnya terdapat rodanya. Ini pasti mainan seorang anak yang terobsesi pada skateboard.
”Aziz, ambil tali putih panjang di sebelah batu itu!”
Aku menyangga kayu dengan kakiku supaya tidak bergerak. Lalu, kami berdua mengangkat tabung gas, dan kami letakkan dengan posisi tertidur. Aku ikat kuat-kuat tabung tersebut, dan kami siap menjalankan misi yang satu ini.
”Ayo, Ziz!”
Kami mendorong papan roda itu dengan sungguh-sungguh. Ada satu saja monyet Zionis melihat, habislah kami berdua. Beruntung, jalan ini adalah turunan meskipun bukan turunan yang curam. Setelah dekat, dengan seluruh tenaga ditambah tekad kuat untuk berjihad, kami dorong dan luncurkan gas ke arah tank tersebut, setelah sebelumnya penutup gas kami buka. Kami berlari sekencang mungkin lalu ledakan terjadi. Kami berdua melompat dan tiarap. Ledakan gas memang tidak sekuat ledakan bom, tapi pengalaman membuktikan bahwa ledakan gas juga mengerikan.
Tank belakang bergoncang saat ledakan terjadi. Dengan bantuan gas, cukuplah membuat mereka sedikit menyadari bahwa ada yang salah dengan tank mereka. Panas mulai merambat, orang-orang dari tank depan kaget lalu berlarian keluar. Mencoba menyelamatkan kawanan mereka, dan mungkin pimpinan mereka. Aku dan Aziz berlari lagi dan masuk ke dalam tong untuk bersembunyi sambil kembali menyusun strategi dadakan untuk orang-orang dari tank depan yang masih panik berusaha mengeluarkan rekan-rekan sesama pengecut itu.
”Aziz, aku tadi sempat sekilas melihat ada banyak sekali pisau di warung itu. Ini saatnya mencoba lemparan pisauku. Siapa tahu hanya dengan membaca Naruto aku jadi selincah dia dan kawan-kawannya.” ujarku sambil tertawa.
”Baiklah, apapun itu daripada kita diam saja di sini.”
Kami kembali ke warung dan mengambil pisau yang harusnya menjadi barang dagangan itu dan memasukkan ke dalam karung yang ada di sana sebanyak-banyaknya. Kami berlari, aku mengintip sejenak setelah itu kami putuskan untuk berlari lagi. Kami ingin tertawa sekencang-kencangnya karena ternyata pintu atas tank belakang itu tidak bisa dibuka atau lebih tepatnya terkunci. Api sudah membesar. Pasti di dalam sekarang sangat panas. Keinginan untuk menertawai mereka itu kami tahan.
”ALLAHUAKBAR!” teriak kami berdua yang mengagetkan para monyet keparat itu.
Aku dan Aziz melempar pisau kalap. Beberapa meleset, tapi lebih banyak yang mengena. Sekitar 6 orang dari tank depan kaget dan merintih kesakitan. Ada beberapa yang langsung mengena dada, ada yang terkena mata, ada 1 orang yang hanya terkena tangan dan kaki. Allahu akbar!
Salah seorang tentara busuk yang hanya terluka tangan dan kakinya itu mengeluarkan pistol. Kami berhenti melempar walaupun pisau di sebelah kami masih banyak. Allah, aku pasrah.
”Kenapa kau berhenti Danar? Misalkan peluru itu menembus dada kita, pisau kita juga akan menembus dadanya!”
Monyet Israel dari samping tank itu tertawa menghina meskipun seluruh temannya telah tumbang. Aziz ikut tertawa yang membuat manusia terkutuk itu bungkam dan heran. Aku yang bingung ikut saja tertawa bersama Aziz. Aziz berbisik sesuatu, dan aku mengiyakan.
Tiba-tiba muka Aziz pias sambil menunjuk ke atas dan berteriak... ”RUDAAAAAL!!!!”
Zionis bodoh itu kaget dan melihat keatas. Detik itu aku manfaatkan untuk melempar pisau ke arah dadanya. Tepat sasaran. Teriakan Aziz memang jitu. Hahaha, ternyata diam-diam dia berbakat jadi tukang bohong.
Sedetik kemudian satu buah peluru terlepas dari pistol Zionis tadi mengarah ke Aziz, satu gerakan reflek aku mendorongnya dan peluru itu bersarang dengan nyaman di perutku. Aku terjatuh, sakit... Namun segalanya terasa sejuk sekarang. Aku tersenyum, Aziz menangis.
”Danar, diam dan jangan banyak bicara. Aku akan membawamu ke rumah sakit... Aku berjanji akan melindungimu!”
Aku tersenyum lalu mengusap air mata bocah berumur sebelas tahun itu.
”Aku mati dengan istimewa Ziz, terkena peluru seperti katamu. Bukan mati kelaparan sebagai tawanan. Hiduplah dan jadilah pahlawan. Aku hanya membayar hutang budi negaraku terhadap negaramu. Aku bangga menjadi saudaramu, aku bangga darahku tumpah di tanah gersang nan suci ini. Aku tunggu kau di Syurga... Marahlah pada para monyet itu, lalu hancurkanlah mereka. Islam pasti menang. Pasti... Allahuakbar!”
”DANAAAAAAR!!!!”
***
”Jadi, begini strateginya...” kata-kata Aziz menguasai ruangan yang diam itu. Bendera Palestina terkibar di hatinya, di sampingnya berkibar satu bendera lain. Bendera sederhana berwarna merah dan putih. Aziz menjelaskan sebuah strategi, strategi yang sama anehnya namun beda penyusunan dengan strategi aneh yang pernah ia susun bersama Danar, orang yang kini ia rindukan.
”Aku akan segera menyusulmu, Danar... Jamu aku di syurga itu! Allahu akbar!”
Dan kerinduan itu pun terobati. Aziz tetap tersenyum walaupun badannya telah terbelah menjadi dua. Untung Danar sudah mendahuluinya, jika tidak... pastilah Danar berteriak lalu pingsan...
***
”Aziiiz!!!”
”Danar? Kamu masih hidup? Atau kita berdua sudah di Surga? Tapi kok, kamar di surga berantakan begini sih?”
”Lho, kamu sudah meninggal? Kapan?”
”Iya, badanku terbelah jadi dua, Nar! Belum lama kok...”
”Ha?! Tapi badanmu sekarang tersambung begitu? Kok jadi aneh ya?”
Nah lho, itu kan ibu ku? Kenapa beliau pergi ke Palestina?
”Mau tidur sampai kapan, Danaaaar??!! Heran ibu sama kamu. Dari kemarin kalau tidur teriak-teriak. Israel-lah, mayat-lah! Ayoo banguun!!!”
”Ziz, kok ibuku menyuruhku bangun sih? Lho Ziz, kamu kok ngilang?”
”Ayoo banguun!!!”
***
”Hahahaha, Subhanallah, Danar... Kok bisa ya kamu sampai bermimpi seperti itu?” Ustadzku tertawa tertahan. Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. Yah Ustadz, kalo’ saya tahu kenapa saya bisa bermimpi seperti itu saya tidak akan bertanya ke Ustadz...
”Assalamu’alaikum!”
”Wa’alaikumsalam... Waduh, Pak Kiai?”
”Saya datang kok dibilang ’waduh’ sih? Ada apa ini, kelihatannya seru sekali?” Pak Kiai tersenyum dan duduk diantara aku dan Ustadz.
”Tidak ada apa-apa, Pak. Tadi Danar hanya bercerita mimpinya. Dia ikut perang di Palestina.” jawab Ustadz.
”Subhanallah... Mimpimu pasti indah sekali ya, Nar?” aku tersenyum bangga.
”O iya, saya punya keponakan, mungkin seumuran Danar. Dia mau pindah ke Jogja. Orangtua nya menitipkan pada saya, agar dibimbing ngaji. Tolong kamu masukkan dia jadi salah satu anak didik TPA ini ya!”
Ustadz mengangguk hormat.
”Seusia saya, Pak Kiai? Wah, ada teman baru! Kapan dia resmi pindah ke sini, Pak? O ya, namanya siapa, Pak Kiai?”
”Mungkin lusa dia sudah sampai. Namanya Aziz!”
”AZIIIZ?!” Aku berteriak kencang sekali.
Ustadz dan Pak Kiai menatapku dengan heran.
Ya Allah, apakah aku masih bermimpi?
Djogja, 12 01 ’09 09:28 AM
Kemarin aku bermimpi perang...
Dan sekarang aku ceritakan dengan sedikit perubahan, kawan...
Khusus untukmu, para pahlawan....
”Psssst... kita sedang sembunyi. Diamlah!”
”Iya iya... Afwan, Ziz..”
Tak lama kemudian aku mendengar langkah kaki mendekat. Langkah kaki tergesa-gesa. Ya Allah, selamatkan kami! Kaki itu semakin dekat, kami mendengarnya dengan jelas. Pasti kaki tersebut terlindung sepatu boot yang berat. Aku menahan nafas, begitu pula Aziz, saudaraku yang menakjubkan.
Dia di depanku! Tentara itu hanya semeter di depanku, hanya saja terhalang kayu besar untuk mencapai tempat persembunyian kami. Bau apek ruangan berdebu pekat ini menjadi-jadi saat bau keringat tentara itu menyeruak. Sialan, bau sekali dia! Allah, walau aku tidak mati di tangannya, bisa jadi aku tetap mati karena kehabisan nafas. Kematian seperti itu juga termasuk syahid kan?
”Tidak ada! Di sini tidak ada tikus-tikus itu!” Tentara bau itu berteriak kemudian berjalan menjauh. Hentakan langkahnya jelas ia maksudkan agar kami berdua ketakutan. Tak lama kemudian dia menghilang. Sebenarnya, tadi aku ingin keluar dari persembunyian dan bertanya padanya,
”Excuse me Sir, do you never take a bath?”
atau,
“Sir, your smell can kills some one! Do you realize it?”
Aku ingin sekalian mempraktekkan bahasa inggrisku yang masih amburadul ini, namun, aku masih sayang nyawaku, sehingga niat iu aku pendam kembali.
Hmpfh... Lega... Akhirnya aku bisa mendapat harapan hidup lagi. Oksigen yang terkontaminasi oleh debu ini masih bisa menyambung hidupku. Untung polusi mengerikan tadi telah pergi. Kami berdua menunggu sampai sekiranya benar-benar aman. Aku melihat Aziz, dia merintih kesakitan. Di sini tidak tampak apapun, tidak ada penerangan sama sekali. Tapi desisan Aziz mengungkapkan semuanya, bahwa bagian tubuhnya ada yang terluka.
”Aziz, kamu kenapa?” Memang terlalu basa-basi, tapi aku sungguh tidak tahu di bagian mana sakit yang ia rasakan.
”Lenganku terserempet peluru, Nar!”
Ya Allah, aku tahu itu pasti mengerikan. Walaupun aku juga tahu di luar sana, di tanah gersang nan suci itu tergeletak jenazah-jenazah yang jauh, jauh lebih mengerikan. Seperti tadi sebelum masuk aku sempat berteriak karena melihat kepala tanpa badan, yang wajahnya pekat tertutup darah. Wallahi aku menyumpahi mereka agar diberikan tempat sesuai. Semoga neraka jahannam yang melahap mereka.
”Danar, ayo kita keluar saja dari sini. Aku yakin para tentara busuk itu sudah pergi.” Tertatih Aziz berdiri sambil memegangi lengannya. Itu pasti sakit sekali. Ya Allah... Jagalah ia, jagalah kami, jagalah Palestin, jagalah ummat Islam...
Secercah sinar di ujung itu membuat kami tahu, bahwa itulah jalan keluar. Pintu yang sudah tinggal seperdelapan dari ukuran sesungguhnya membuat kami dapat bernafas dalam arti yang sebenarnya. Debu memang ada, tapi tidak sebanyak tadi.
Belum sampai depan pintu, dalam himpitan bangunan yang setengah hancur ini menjulurlah sebuah tangan.
”AAAAAAAAARGH!!! Aziiiz, tangan... itu ada tangaaaan!” Aku berteriak kaget, benar-benar kaget dan ngeri melihat tangan tiba-tiba menjulur dari dalam runtuhan batu. Aziz memukulku dan berbisik marah,
”Bodohnya dirimu duhai saudaraku, tentara itu tahu kita di gedung roboh ini karena teriakanmu saat masuk tadi. Sekarang kau teriak lagi? Kau mau membuat kita celaka? Jika Allah memanggilku, aku ingin mati dengan istimewa. Terkena rudal, atau peluru. Tapi bukan mati kelaparan saat kita jadi tawanan!”
”Iya, Ziz... tapi tangan itu benar-benar mengagetkanku...” belaku sambil mengusap pundakku yang perih dipukulnya. Kalau aku jahat, pasti untuk membalas pukulan Aziz, akan aku pegang tangannya yang sakit. Namun Aziz patut bersyukur karena aku dilahirkan untuk menjadi anak baik.
”Biasakanlah dirimu, hal seperti ini akan sering kau temui. Aku malu berjalan bersamamu karena dari kemarin kau berteriak tiap melihat mayat tak utuh, dan kau hampir pingsan tiap melihat jenazah yang dikafani. Ayo kita keluar sekarang!” Aziz menggapai tanganku dan diajaknya aku keluar.
Lho, Jenazah yang membuatku hampir pingsan kan jenazah yang kafannya merah terkena darah suci para Mujahid itu... Tapi, ya sudahlah... sekarang aku lebih terbiasa daripada hari kemarin.
Aku berasal dari Indonesia, tepatnya dari Jogja. Aku bisa sampai disini karena satu keluarga berhati mulia, mengambilku sebagai anak asuh untuk disekolahkan di tanah yang dijanjikan ini. Kebetulan waktu itu keluarga ini sedang ada urusan penting di Jogja, entahlah urusan apa itu. Mobil mereka mogok di depan rumahku. Saat Ayah Aziz turun dan mencoba membenarkan mobil yang tidak berdaya itu, aku sedang merangkak perlahan di atap, membetulkan letak genting rumah yang miring akibat ulahku.
Ayah Aziz tidak sengaja melihatku dan kaget, kemudian beliau tertawa. Langsung saja beliau menyuruhku turun dan mengajakku sekaligus keluargaku berkenalan. Ayah Aziz beberapa kali datang ke Jogja, sehingga bahasa Indonesianya sudah lumayan bisa dipahami meskipun masih terdengar aneh.
Ayah Aziz ingin menjadikanku anak angkat agar Aziz yang kebetulan anak tunggal mempunyai saudara. Awalnya ibuku menolak, namun atas segala serangan ucapan dariku dan bapak mematahkan argumentasi ibu, jadilah aku berangkat ke Palestina ini. Begitulah cerita singkat mengapa aku ada di tengah keluarga Aziz yang kini menjadi keluargaku.
”Lari, Nar!” perintah Aziz menghancurkan bayangan masa laluku. Tank memasuki daerah perkampungan ini. Aku dan Aziz berlari sangat kencang. ”Kita kemana Ziz?” tanyaku di tengah kepanikan yang sangat.
”Ke arah sini. Cepatlah!”
Kami berbelok ke arah kiri dan menemukan tong besar. Tong yang biasanya digunakan untuk menyimpan barang-barang milik pedagang itu menjadi tempat persembunyian kami selanjutnya.
Sebenarnya sangat mengerikan, bermain petak umpet dengan para penjajah bodoh itu. Rasanya nyawa bukanlah sesuatu yang patut dipusingkan. Tapi itu bukan mau kami. Setan-setan itu yang kelihatannya ingin bermain. Hanya saja bermain dengan darah. Aku yakin, masa kecil mereka dulu sangat sangat sangat tidak bahagia.
Aziz mengintip dari sela-sela antara tong dengan tutupnya.
”Biadab! Dua tank! Bagaimana bisa kita melawan mereka?” umpatnya.
”Sebentar, tank lagi? Kok dalam logikaku, mereka menjadi semakin pengecut ya? Begini maksudku. Aku bisa mengakui mereka pemberani jika mereka tidak bersenjata, seperti kita...” Bisikku pada Aziz.
”Kau tahu Hamas? Golongan yang sama-sama berrebut kekuasaan? Israel terkutuk ini sesungguhnya mengincar Hamas yang sama-sama bersenjata. Namun, kami para penduduk sipil selalu yang menjadi korban, bahkan tameng mereka.” jawabnya geram.
Hamas? Oh, iya-iya, tentu saja aku tahu... Namun jujur, aku memang kurang paham. Entahlah... Mungkin orang-orang yang berpolitik. Aku belum ingin (belum sanggup lebih tepatnya) bermain dengan dunia itu.
”Danar, kita harus susun strategi. Bagaimana mengalahkan dua tank itu dengan tangan kosong?” Huh, mustahil. Itu tidak mungkin terjadi kecuali ada keajaiban dari Allah.
”Berdo’a?” jawabku asal.
”Iya berdo’a, tapi harus ada aplikasinya.” Aplikasi? Sudahlah.... itu terlalu berkhayal. Siasat perang Jepang yang aku baca dari komik Shanao Yohitsune dulu pun tidak ada yang cocok. Dalam siasat perang itu, lawannya orang bersenjata pedang, bukan tank.
”Apa yang kau pikirkan Nar?” Yang aku pikirkan? Membuang semua khayalan konyolnya untuk menghancurkan dua tank itu.
”Dalam komik Jepang yang pernah aku baca, ada kata-kata ’jika kau ingin melumpuhkan seribu pasukan, maka lumpuhkan dulu pimpinan pasukan itu. Maka pasukan yang lain akan kehilangan arah dalam berperang’.” jawabku diplomatis. Itu jika pimpinan perangnya bukan di dalam tank. Yang ini lain cerita. Aziz terlihat berpikir sejenak. Lalu bertanya lagi,
”Apalagi yang kau ketahui?”
”Hh, ini lebih mustahil lagi. Jika kau ingin membunuh pemegang kuda, tebas saja kaki kudanya. Tapi kau harus ingat Ziz, lawan kita tidak menggunakan kuda. Menebas kaki kuda juga perbuatan yang jahat.”
”Tapi menghancurkan tank bukan kejahatan kan?” tanyanya sinis. Allah, aku menyesal telah memberitahunya hal-hal yang aneh.
”Menurutmu, pemimpin pasukan yang ini ada di tank depan atau belakang, Nar?” tanya Aziz.
”Di film-film, para penjahat pasti digambarkan mempunyai pemimpin yang menumbalkan anak buahnya demi keselamatan dirinya.” aku sudah sangat terbawa suasana film.
”Aku juga berpikir demikian.” Aziz berkata yakin.
”Siap syahid, Nar?” tanyanya menakutkan.
”Eh? Ya! Aku siap....” jawabku lebih menakutkan.
Tunggu sebentar, ini bukan hal yang menakutkan. Ini perbuatan yang bagus. Aku teringat dulu ustadz TPA-ku memberi nasihat, ”Jika sudah besar, tanamkanlah jiwa ksatria pada diri kalian. Berjihadlah! Saat negara-negara Islam, misalnya Palestin diserang, kita harus membantu!”
Palestin? Pada saat itu aku teringat pada Aziz. Lalu aku bertanya pada Ustadzku,
”Mengapa Palestin harus kita bantu Ustadz?”
”Tidak hanya Palestin, Danar... Tapi semua negara Islam. Tapi jika pertanyaanmu mengarah pada Palestin, maka Ustadz akan menjawab karena Palestin adalah salah satu negara yang langsung mengakui kedaulatan Indonesia pada saat Indonesia merdeka dulu. Padahal tidak semua negara langsung mengakui bahwa Indonesia telah berdaulat.”
Aku bergetar hebat teringat jawaban dari Ustadzku. Baiklah, Tuan Palestin yang dicintai Allah, inilah saatnya aku membalas budi baikmu terhadap negaraku dulu.
Aku dan Aziz mencoba mencari strategi jitu. Tank itu tidak seperti kayu yang mudah terbakar jika terkena api. Tank adalah baja. Tapi baja bersifat konduktor alias penyalur panas yang baik. Aku berterimakasih pada penemu rumus konduktor isolator. Sebelum masuk tong ini tadi, ternyata Aziz melihat minyak tanah di dalam warung yang dindingnya remuk, di belakang tong kami berdiri. Ini akan membantu, karena kami punya korek api. Tapi bagaimana langkah selanjutnya?
”Ziz, di warung itu jika ada minyak tanah, berarti ada kemungkinan terdapat gas. Bukan begitu?”
”Mmmm, ya... aku rasa demikian. Lalu apa saranmu?”
”Begini...” aku membicarakan saran aneh yang ada di benakku. Aziz mengangguk-angguk lalu tersenyum. ”Cemerlang!” ungkapnya. Ya Allah, masukkanlah Aziz ke dalam Syurga karena dia satu-satunya orang yang mengatakan bahwa ideku cemerlang. Sebelumnya, di Yogja dulu, orang-orang selalu menolak ideku dengan perkataan yang sangat menusuk. ”Idemu tidak bermutu, Nar!”
Kami keluar mengendap-endap menuju warung rusak itu. Dengan sedikit penerangan dari sinar matahari di luar, kami menemukan tabung gas berukuran besar. Akan sedikit merepotkan untuk membawanya ke sana.
”Aku mengintip tank itu sebentar Nar!” Aziz berlari lalu mengintip ke kiri. Tak lama ia kembali lagi.
”Tank itu berjalan lambat. Sepertinya sebentar lagi ia akan berhenti. Arahnya sekitar 250 meter dari kita. Kita akan Syahid Nar! Akhirnya...” Aziz terlihat bahagia sekali. Aku membawa minyak tanah sambil menjinjing beberapa kayu keluar dan Aziz hanya membawa tumpukan kayu karena tangannya terluka parah.
”Bismillah...” ucap kami bersamaan.
Benar dugaan Aziz, tank itu telah berhenti. Kami berlari mengendap-endap sambil tertatih.
Menegangkan. Aku sangat tegang saat sampai di belakang tank. Bukan hal yang mustahil jika salah satu saja pasukan mengetahui kami, tank akan dijalankan mundur dengan segera. Kami akan terlindas dan tamat. Namun Allah masih menjaga kami. Pelan-pelan namun cekatan kami meletakkan kayu bakar di sekitar tank dan menuangkan minyak tanah, lalu menyalakan api di setiap sudut. Aku yakin, mereka belum keluar dari tank karena takut mendapat serangan mendadak, dan mereka tidak akan berpikir ada dua bocah lelaki nakal yang mencuri start.
Setelah api menyala dari bawah tank, kami berlari mengambil gas di warung tadi. Butuh waktu lama agar mereka menyadari betapa panasnya tank itu. Tank depan masih selamat. Tabung gas kami bawa berdua. Tiba-tiba aku tertawa, dan tabung gas kami letakkan kembali ke tanah.
”Jangan tertawa di saat seperti ini, Nar!”
”Kita berdua bodoh ya Ziz, bagaimana mungkin tabung seberat ini bisa kita lemparkan?”
”Iya juga? Lalu bagaimana, Nar?”
Aku berlari ke ujung gang ini, dan ternyata tadi aku tidak salah lihat. Aku tersenyum dan menarik papan kasar, yang dibawahnya terdapat rodanya. Ini pasti mainan seorang anak yang terobsesi pada skateboard.
”Aziz, ambil tali putih panjang di sebelah batu itu!”
Aku menyangga kayu dengan kakiku supaya tidak bergerak. Lalu, kami berdua mengangkat tabung gas, dan kami letakkan dengan posisi tertidur. Aku ikat kuat-kuat tabung tersebut, dan kami siap menjalankan misi yang satu ini.
”Ayo, Ziz!”
Kami mendorong papan roda itu dengan sungguh-sungguh. Ada satu saja monyet Zionis melihat, habislah kami berdua. Beruntung, jalan ini adalah turunan meskipun bukan turunan yang curam. Setelah dekat, dengan seluruh tenaga ditambah tekad kuat untuk berjihad, kami dorong dan luncurkan gas ke arah tank tersebut, setelah sebelumnya penutup gas kami buka. Kami berlari sekencang mungkin lalu ledakan terjadi. Kami berdua melompat dan tiarap. Ledakan gas memang tidak sekuat ledakan bom, tapi pengalaman membuktikan bahwa ledakan gas juga mengerikan.
Tank belakang bergoncang saat ledakan terjadi. Dengan bantuan gas, cukuplah membuat mereka sedikit menyadari bahwa ada yang salah dengan tank mereka. Panas mulai merambat, orang-orang dari tank depan kaget lalu berlarian keluar. Mencoba menyelamatkan kawanan mereka, dan mungkin pimpinan mereka. Aku dan Aziz berlari lagi dan masuk ke dalam tong untuk bersembunyi sambil kembali menyusun strategi dadakan untuk orang-orang dari tank depan yang masih panik berusaha mengeluarkan rekan-rekan sesama pengecut itu.
”Aziz, aku tadi sempat sekilas melihat ada banyak sekali pisau di warung itu. Ini saatnya mencoba lemparan pisauku. Siapa tahu hanya dengan membaca Naruto aku jadi selincah dia dan kawan-kawannya.” ujarku sambil tertawa.
”Baiklah, apapun itu daripada kita diam saja di sini.”
Kami kembali ke warung dan mengambil pisau yang harusnya menjadi barang dagangan itu dan memasukkan ke dalam karung yang ada di sana sebanyak-banyaknya. Kami berlari, aku mengintip sejenak setelah itu kami putuskan untuk berlari lagi. Kami ingin tertawa sekencang-kencangnya karena ternyata pintu atas tank belakang itu tidak bisa dibuka atau lebih tepatnya terkunci. Api sudah membesar. Pasti di dalam sekarang sangat panas. Keinginan untuk menertawai mereka itu kami tahan.
”ALLAHUAKBAR!” teriak kami berdua yang mengagetkan para monyet keparat itu.
Aku dan Aziz melempar pisau kalap. Beberapa meleset, tapi lebih banyak yang mengena. Sekitar 6 orang dari tank depan kaget dan merintih kesakitan. Ada beberapa yang langsung mengena dada, ada yang terkena mata, ada 1 orang yang hanya terkena tangan dan kaki. Allahu akbar!
Salah seorang tentara busuk yang hanya terluka tangan dan kakinya itu mengeluarkan pistol. Kami berhenti melempar walaupun pisau di sebelah kami masih banyak. Allah, aku pasrah.
”Kenapa kau berhenti Danar? Misalkan peluru itu menembus dada kita, pisau kita juga akan menembus dadanya!”
Monyet Israel dari samping tank itu tertawa menghina meskipun seluruh temannya telah tumbang. Aziz ikut tertawa yang membuat manusia terkutuk itu bungkam dan heran. Aku yang bingung ikut saja tertawa bersama Aziz. Aziz berbisik sesuatu, dan aku mengiyakan.
Tiba-tiba muka Aziz pias sambil menunjuk ke atas dan berteriak... ”RUDAAAAAL!!!!”
Zionis bodoh itu kaget dan melihat keatas. Detik itu aku manfaatkan untuk melempar pisau ke arah dadanya. Tepat sasaran. Teriakan Aziz memang jitu. Hahaha, ternyata diam-diam dia berbakat jadi tukang bohong.
Sedetik kemudian satu buah peluru terlepas dari pistol Zionis tadi mengarah ke Aziz, satu gerakan reflek aku mendorongnya dan peluru itu bersarang dengan nyaman di perutku. Aku terjatuh, sakit... Namun segalanya terasa sejuk sekarang. Aku tersenyum, Aziz menangis.
”Danar, diam dan jangan banyak bicara. Aku akan membawamu ke rumah sakit... Aku berjanji akan melindungimu!”
Aku tersenyum lalu mengusap air mata bocah berumur sebelas tahun itu.
”Aku mati dengan istimewa Ziz, terkena peluru seperti katamu. Bukan mati kelaparan sebagai tawanan. Hiduplah dan jadilah pahlawan. Aku hanya membayar hutang budi negaraku terhadap negaramu. Aku bangga menjadi saudaramu, aku bangga darahku tumpah di tanah gersang nan suci ini. Aku tunggu kau di Syurga... Marahlah pada para monyet itu, lalu hancurkanlah mereka. Islam pasti menang. Pasti... Allahuakbar!”
”DANAAAAAAR!!!!”
***
”Jadi, begini strateginya...” kata-kata Aziz menguasai ruangan yang diam itu. Bendera Palestina terkibar di hatinya, di sampingnya berkibar satu bendera lain. Bendera sederhana berwarna merah dan putih. Aziz menjelaskan sebuah strategi, strategi yang sama anehnya namun beda penyusunan dengan strategi aneh yang pernah ia susun bersama Danar, orang yang kini ia rindukan.
”Aku akan segera menyusulmu, Danar... Jamu aku di syurga itu! Allahu akbar!”
Dan kerinduan itu pun terobati. Aziz tetap tersenyum walaupun badannya telah terbelah menjadi dua. Untung Danar sudah mendahuluinya, jika tidak... pastilah Danar berteriak lalu pingsan...
***
”Aziiiz!!!”
”Danar? Kamu masih hidup? Atau kita berdua sudah di Surga? Tapi kok, kamar di surga berantakan begini sih?”
”Lho, kamu sudah meninggal? Kapan?”
”Iya, badanku terbelah jadi dua, Nar! Belum lama kok...”
”Ha?! Tapi badanmu sekarang tersambung begitu? Kok jadi aneh ya?”
Nah lho, itu kan ibu ku? Kenapa beliau pergi ke Palestina?
”Mau tidur sampai kapan, Danaaaar??!! Heran ibu sama kamu. Dari kemarin kalau tidur teriak-teriak. Israel-lah, mayat-lah! Ayoo banguun!!!”
”Ziz, kok ibuku menyuruhku bangun sih? Lho Ziz, kamu kok ngilang?”
”Ayoo banguun!!!”
***
”Hahahaha, Subhanallah, Danar... Kok bisa ya kamu sampai bermimpi seperti itu?” Ustadzku tertawa tertahan. Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. Yah Ustadz, kalo’ saya tahu kenapa saya bisa bermimpi seperti itu saya tidak akan bertanya ke Ustadz...
”Assalamu’alaikum!”
”Wa’alaikumsalam... Waduh, Pak Kiai?”
”Saya datang kok dibilang ’waduh’ sih? Ada apa ini, kelihatannya seru sekali?” Pak Kiai tersenyum dan duduk diantara aku dan Ustadz.
”Tidak ada apa-apa, Pak. Tadi Danar hanya bercerita mimpinya. Dia ikut perang di Palestina.” jawab Ustadz.
”Subhanallah... Mimpimu pasti indah sekali ya, Nar?” aku tersenyum bangga.
”O iya, saya punya keponakan, mungkin seumuran Danar. Dia mau pindah ke Jogja. Orangtua nya menitipkan pada saya, agar dibimbing ngaji. Tolong kamu masukkan dia jadi salah satu anak didik TPA ini ya!”
Ustadz mengangguk hormat.
”Seusia saya, Pak Kiai? Wah, ada teman baru! Kapan dia resmi pindah ke sini, Pak? O ya, namanya siapa, Pak Kiai?”
”Mungkin lusa dia sudah sampai. Namanya Aziz!”
”AZIIIZ?!” Aku berteriak kencang sekali.
Ustadz dan Pak Kiai menatapku dengan heran.
Ya Allah, apakah aku masih bermimpi?
Djogja, 12 01 ’09 09:28 AM
Kemarin aku bermimpi perang...
Dan sekarang aku ceritakan dengan sedikit perubahan, kawan...
Khusus untukmu, para pahlawan....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar